Thursday, October 27, 2011

Jalan yang Pernah Terputus


Hamper saja dilewatkan momen yang sangat indah ini, untung saja tuhan masih berbaik hati.
Dua tahun sudah waktu-waktu dilewatkan dengan kurang antusias, mulai saat ini waktunya bergerak membenahi jalan yang kemarin amblas.
Bakal banyak kehidupan baru yang hidup setelahnya, tinggal menunggu dan sabar serta kerja keras saja.
Itu saja, cukup itu saja, mudah-mudahan bukan untuk sementara, harapannya untuk selamanya, hingga ajal menjemput, hingga di surga pun masih ada harapan untuk berbenah, bukannya surga tempat yang paling nyaman untuk melakukan apa yang diinginkan.
Bahagianya hidup dengan semangat yang selalu di atas.
Jika memang ingin hidup, kalimat apapun harus menjadi patokan, karena manusia hanya akan selalu mengeluarkan isi hatinya, walaupun sebenarnya berbohong, pasti ada yang dapat tercermin dari setiap ucapan dan tindakan.

Wednesday, October 26, 2011

Hina


Di balik layar ini adalah seorang manusia terkotor, mulutnya bagaikan comberan, selalu bicara lain dari hatinya, selalu mengumbar janji , dan hanya bisa menghina serta menggerutu.
Gerakannya mengisyaratkan kemunafikannya, tangannya yang dilipat di dada, seperti itulah, selalu menutup diri dengan orang lain.
Merasa paling hebat dalam segala hal, kurang antusias selain dari pada diri sendiri.
Jika melihat orang lain, dilihatlah dari atas hingga ujung kaki, ingin tahu apa saja yang dikenakan, lebih baikkah atau sebaliknya.
Suaranya lembut, melambangkan kesopanan, aslinya hanya sebuah topeng untuk dihargai.
Hatinya selalu berbicara mengapa tuhan tidak adil, mengapa manusia itu begini, begitu.
Yakin sekali dengan kesuksesan akan diraih, padahal hanya bisa meminta dari orang tua dan tertidur pulas di saat yang lain sibuk mencari emas.
Teman-teman bagi manusia ini hanya sebuah kerikil, teman sejati itu kebohongan, dengan lantang bicara.
Ya dan ternyata semua ini ada dan nyata.

Tuesday, October 25, 2011

Bunga Tidur

Bercerita tentang sebuah pengorbanan, walaupun dalam keadaan sakit, tetap saja ingin menemani.
Begitulah seorang teman yang ada dalam tidur, datang dengan senyuman, dan hanya ingin tetap bersama.
Sekiranya ada yang mau berbagi, ada yang mau bersabar, tentang masa depan, tentang suatu pencapaian.
Lubang-lubang angin mempersilahkan masuk sebuah nafas, nafas untuk bertahan hidup, seperti seorang ibu yang menyusui.
Datangnya malam seperti datangnya seorang ayah setelah seharian berfikir untuk keluarga.
Pelacur hidup di malam-malam tanpa kedatangan si genit dan manja, yaa, sama dengan sebuah mimpi tanpa pengorbanan.
Lelap sekali anak itu tidur, memegang erat gulingnya, mengharapkan sosok ibu yang mencium kening, mengharapkan seorang kakak yang mengajak bermain kemah-kemahan.
Wanita, semuanya bagaikan sehelai rambut, saat lepas sebiji bagi si pemilik rambut lebat hanya sebuah iklan, dan bagi si berpenyakit rontok adalah sebuah kehilangan.
Tutup sekarang jiwa-jiwa yang ingin meminta, tenaga hanya menjadi hiasan yang sudah usang.
Suara flute yang mengalun mengibaratkan alunan rajin sekali mengharapkan datangnya mimpi untuk diri sendiri.
Kata-kata asing yang sudah menjadi biasa akhirnya menjadikan kebiasaan buruk menjadi hal biasa.
Binatang hidup dengan evolusi, anak-anak hewan mulai berubah dari masa ke masa, fikiran yang monoton menghantui, sulit sekali dilepaskan.
Senja, waktunya untuk bercengkrama bersama wanita tua yang sudah biasa dengan tingkah laku orang-orang serakah.
Mengerti sekali tentang diri, berspekulasi sangat tepat dari melihat gerak gerik saja.
Kopi hitam tinggal sedikit, juara yang nyawanya terbelit, mendapat cobaan pahit, akhirnya mati karena sakit.
Tiba waktu sujud, permintaannya akan segera dikabulkan, hanya yang sedang asyik dengan bunga- bunga tidurnya berharap lewat kenyataan.
Ide-ide gila semuanya berhasil di masa lalu, dan sampai sekarang pun masih menjadi andalan.
Kala alam itu datang keninginan telah bercerita lain, mempertemukan orang-orang yang diharapkan, suatu hari akan dikabulkan, dengan sebuah pengorbanan.

Monday, October 24, 2011

Lintasan Pagi


Dalam keadaan ini ada yang mengeluh, tentang kesialan di hari kemarin, tentang kemarahan di malam hari, kerugian di siang hari, kecurangan yang dialami di sore hari.
Pagi ini permintaan masih belum dikabulkan, masih banyak yang diingini, entah apa itu, hanya saja tetap ingin selamat dan tetap ingin mendapat kebutuhan sehari-hari.
Pagi hari banyak yang tertawa mengenai orang lain, yang lain itu buruk hanya diri sendiri yang paling baik, pada pagi hari.
Lintasan itu tampak lengang, kosong, hanya ada aspal yang bermandikan embun, seperti hati yang berharap sesuatu yang diidam-idamkan.
Ada yang bilang kekayaan itu dalam hati, memang sangat mudah mengucapkannya, bagi si munafik berat untuk di jalani, yang munafik mungkin seorang yang terbahak-bahak di balik punggung orang itu. 
Hanya bisa berkata, semua orang hanya sampah, bagi si munafik, kesombongan sudah di atas kepala batasnya, kesombongan sudah ada di genggaman, selalu berharap pada makhluk, penjilat yang paling manis.
Memang untuk sempurna itu seperti pendakian gunung sejuta meter, diantara sekian batu yang menempel pada gunung itu ada benalu, ada kadal. 
Puncaknya hanya akan dilalui di pagi hari itu, dan akan melihat lintasan dari atas sambil berharap sebuah gerakan sujud.

Dimensi Mimpi


Jarang sekali hidup untuk  mendapat kerugian, dan yang ternyata didapat adalah kesalahan
Sekarang semuanya hidupp dalam mimpi, menghidupi mimpinya, hidup untuk mewujudkan impiannya.
Sudah saatnya untuk bangun dari alam liar ini, bukan untuk tidur dan diam serta menghayal mendapat sesuatu.
Dalam hidup yang hanya untuk mimpi, lahirlah dimensi mimpi.
Diantaranya selalu berlari mengumbar mimpi, itu adalah doa.
Pancasila yang menjadi dasar Negara ini hanya akan menjadi mimpi, banyak yang menghayal untuk menjadikan Negara ini hidup seperti pancasila berkata.
Banyak lagi yang terjadi dalam dunia mimpi, apapun bisa didapat, apapun bisa dilakukan, semuanya hanya waktu dan tindakan yang menjawab.
Sekali kenal sosok Tuhan memang katanya adalah candu, sebenarnya bukan candu, itu adalah sebuah jawaban dari banyak pertanyaan,
Dunia mimpi adalah cinta yang hidup terpendam ingin diraih, yaaa, itu semua hanya mimpi, impian yang gila adalah awal dari banyak penemuan, seperti impian untuk terbang, terdengar gila pada saat itu, sekarang, semua bisa terbang dengan mimpi, dan hanya mimpi yang bisa membuat terbang keinginan untuk berjalan sampai akhirnya berlari.
Penindasan pun sebuah mimpi, mimpi untuk berkuasa, penindasan dan pengkastaan adalah mimpi untuk menjadikan diri yang paing kuat, paling hebat, sama halnya dengan penghinaan, caci maki, semuanya hanya ingin menjadikan diri di atas angin.
Banyak muncul pertanyaan dan keluhan untuk mendapat mimpi, lebih baik semuanya dijalani, keluhan akan menjadi keluhan jika ditanyakan, ada yang bilang, semua sudah tahu jawabannya, hanya saja harus digali lebih dalam, semua ada cara dan penyelesaiannya.
Kesombongan itu ada batasnya, semua orang bisa bilang orang lain sombong jika dianggap sombong, dan jika sudah terbiasa dengan lingkungan yang sombong, akan terbawa, dan itu jadi kebiasaan.
Menggurui, semua orang pasti ada saat memberi pelajaran, persoalannya adalah menerima atau menafikan ajaran itu.
Hal yang paling menyenangkan adalah mendapat mimpi, dan disukai banyak orang, hanya tindakanlah yang menjadi bibit akan seperti apa nanti bertahun-tahun ke depan.
Hal paling memuakkan mungkin membantu orang yang menolak untuk dibantu, walaupun akhirnya tetap saja harus membantu, dan yang dibantu hanya bisa mencemooh bantuan itu,
Mimpi, hanya mimpi.

Wednesday, September 14, 2011

Rasa


Amarah selalu datang saat waktu terasa lambat, keinginan ingin menghajar selalu ada, diikuti dengan cacian tanpa sebab, begitu juga dengan tindakan yang seenaknya.
Ya, amarah selalu datang saat waktu terasa lambat, semuanya terlihat salah di mata, hanya beranggapan diri ini yang paling benar, padahal hanya berujung pada rasa malu.
Memang marah itu perlu, sesungguhnya datangnya amarah akan hilang jika mengingat ujung dari perbuatan.
Sewajarnya saja, yang diperlukan hanya sabar dan rasa syukur.
Buat apalah mengasihani orang lain, belum tentu ingin dikasihani, malah akan menyakiti hati.
Lain dengan seorang penjilat, hanya ingin apa yang dimiliki, bahkan seluruhnya ingin ada di genggaman.
Penjilat Yang maha segalanya, itulah manusia.
Selalu ingin dikabulkan, padahal semua yang diberi adalah yang dibutuhan.
Sadar diri adalah awalan yang baik kawan!
Ditambah dengan pergerakan istimewa tiap detiknya, itulah yang akan menjadi bukti penobatan seorang menjadi abdi yang agung.
Harapan akan datang saat kalah, salah satunya harapan untuk menang, bukan untuk curang, malahan untuk melangkah maju dan menjadi lebih baik lagi.
Sekiranya ada yang dapat pegendali rasa, itulah yang semua butuhkan, inginnya senang selalu, apa daya rintangan datang seiring bergejolaknya fikiran.
Semakin dalam merasakan yang ada, merasa cukup dengan keindahan yang dilihat, dan mengerti akan keadaan di sekitar, mungkin akan lebih baik.
Bagaikan seorang guru, selalu ingin menjadikan anak didiknya lebih baik, walaupun dirinya masih ada kemungkinan melakukan kesalahan.
Senangnya menjadi tanah, yang bisa menjadi perantara tumbuhnya pohon manga, tetap kokh jati dirinya, tetap kuat walaupun ada hinaan atau bahkan pujian hanya diartikan seperti gelombang suara yang melintas di kuping, bukan untuk merasa bangga berlebih, layaknya seorang pecundang.
Sakit sekali rasanya dihina, memang sakit, hanya saja berlama-lama dalam rasa sakit akan membuat tubuh menjadi busuk, kurang berguna lagi, cukup lalat yang menikmati, dan ternyata menjadi busuk membangkai masih ada manfaat bagi binatang yang dianggap hina, belatung pun terdiam sejenak melihat tubuh ini, timbul pertanyaan dalam jiwa belatung, seandainya tubuh ini masih menghargai diri sendiri, pasti akan tumbuh menjadi pahlawan.

Sunday, September 11, 2011

Hantu


Sekelabat angin mengudara, seperti manusia berkeliaran di trotoar panjang, tanpa memikirkan yang belum dikenalnya.
Sekiranya ada yang mengetuk dengan perlahan, sunyi, sangat sunyi, dimana hanya ada suara ketukan itu.
Akhirnya pintu dibuka, dan yang datang adalah sesosok mayat dengan senyuman di wajah.
Senyuman itu melambangkan kesenangan dalam hatinya saat hidup.
Terfikir untuk lari, namun ia senyum sangat lebar, mengisyaratkan hidupnya begitu dekat dengan sujud.
Terlintas langsung, bahwa hidup hanya untuk sujud, hanya untuk beribadah, apapun yang dilakukan selalu ada sangkut pautnya dengan Yang maha sabar.
Biarlah hantu datang beramai-ramai, belum tentu itu hantu yang mati, atau mayat yang berkeliaran, bisa saja hanya manusia yang menjadi hantu.
Begitu seramnya hidup menjadi hantu, berusaha mengajak menjadi hantu, melupakan sujud.
Sekarang sudah waktunya berbicara dalam hati, mengesakan Yang maha esa.
Sekiranya orang lain menganggap busuk, biarlah, banyak yang belum diketahui sebenarnya.
Bisa dilihat dari gerak gerik si pembicara hati, semakin sering dilihat semakin nyaman dan semakin santai.
Inginnya bertemua sang pijar di hati, yang selalu merasa aman selagi yang lain tegang, selalu merasa senang, selagi yang lain takut.
Hanya itu yang ada di hati, mengungkapkan dengan kesenangan kakinya melangkah dan tangannya yang selalu menengadah berdoa.