Sunday, September 11, 2011

Hantu


Sekelabat angin mengudara, seperti manusia berkeliaran di trotoar panjang, tanpa memikirkan yang belum dikenalnya.
Sekiranya ada yang mengetuk dengan perlahan, sunyi, sangat sunyi, dimana hanya ada suara ketukan itu.
Akhirnya pintu dibuka, dan yang datang adalah sesosok mayat dengan senyuman di wajah.
Senyuman itu melambangkan kesenangan dalam hatinya saat hidup.
Terfikir untuk lari, namun ia senyum sangat lebar, mengisyaratkan hidupnya begitu dekat dengan sujud.
Terlintas langsung, bahwa hidup hanya untuk sujud, hanya untuk beribadah, apapun yang dilakukan selalu ada sangkut pautnya dengan Yang maha sabar.
Biarlah hantu datang beramai-ramai, belum tentu itu hantu yang mati, atau mayat yang berkeliaran, bisa saja hanya manusia yang menjadi hantu.
Begitu seramnya hidup menjadi hantu, berusaha mengajak menjadi hantu, melupakan sujud.
Sekarang sudah waktunya berbicara dalam hati, mengesakan Yang maha esa.
Sekiranya orang lain menganggap busuk, biarlah, banyak yang belum diketahui sebenarnya.
Bisa dilihat dari gerak gerik si pembicara hati, semakin sering dilihat semakin nyaman dan semakin santai.
Inginnya bertemua sang pijar di hati, yang selalu merasa aman selagi yang lain tegang, selalu merasa senang, selagi yang lain takut.
Hanya itu yang ada di hati, mengungkapkan dengan kesenangan kakinya melangkah dan tangannya yang selalu menengadah berdoa.


No comments:

Post a Comment