Tuesday, September 6, 2011

Bercanda


Dibuka dengan kata-kata ringan, banyak juga yang memulai dengan gerakan.
Belum tentu hati mengiyakan yang diucap, penyesalan akan datang setelah lama melihat kembali apa yang terucap.
Sebelum semua ini tiba, hanya kesenangan saja yang ada.
Sebelum semua ini tiba, hanya cemoohan saja yang ada.
Sebelum semua ini tiba, banyak yang tersakiti.
Seadainya kesalahan ini selesai sampai disini, betapa bahagianya dunia.
Kiranya Yang Maha Tahu, mengabulkannya, apakah masih ada rasa sakit?
Seperti pantomime, melawak dengan gerakan, menghibur dengan bahasa tubuh, memang lain sekali, jujur terlihat.
Kesedihan akan masa lalu semuanya pasti mengalami, semua itu toh hanya bercanda.
Bagaikan matahari yang masih rela bersinar, walaupun tertutup kabut dan awan.
Setiap harinya matahari menemani bercandanya setiap insan, keluhannya, kesenangannya hanya untuk menghidupkan dunia.
Bagaikan bulan yang selalu tersenyum pada saatnya, dan dengan perlahan menjadi pemalu pada waktunya pula.
Setiap detiknya dilewati tanpa ada rasa sedih.
Walaupun hina, masih ada mutiara di dalamnya.
Walaupun menjijikan, masih ada harta di jantungnya.
Warna-warni kebahagiaan selalu hadir di setiap darah yang dilewati, di setiap nafas yang dihembuskan, di setiap kedipan yang bergerak.
Hinaan macam apa yang dapat hidup saat orang tertawa?
Memang semuanya sulit untuk tidak ditertawakan, sampai-sampai tikus got bisa jadi sebuah pelajaran.
Mari semua tertawa dalam hidup, tertawailah hidup ini, tertawailah semua, jika itu membuat tenang batin.
Tertawa bukan berarti punya derajat lebih, tertawa memang ingin membuat yang lain senang denagn wajah ini.
Sedihnya saat tertawa untuk membahagiakan disalah artikan, dijadikan sebuah cemoohan.
Sampai saat ini, terlihat baik-baik saja, belum tentu sama dengan rasa dan ucapan setelahnya.
Bergetarlah saat semua itu terjadi.
Apa yang harus dilakukan?
Apa yang harus diperbuat?
Mari berfikir, apa salahnya bercanda tanpa kata?
Akan lebih sulit jika setelahnya selalu meminta maaf karena keteledoran lidah.

No comments:

Post a Comment