Wednesday, September 14, 2011

Rasa


Amarah selalu datang saat waktu terasa lambat, keinginan ingin menghajar selalu ada, diikuti dengan cacian tanpa sebab, begitu juga dengan tindakan yang seenaknya.
Ya, amarah selalu datang saat waktu terasa lambat, semuanya terlihat salah di mata, hanya beranggapan diri ini yang paling benar, padahal hanya berujung pada rasa malu.
Memang marah itu perlu, sesungguhnya datangnya amarah akan hilang jika mengingat ujung dari perbuatan.
Sewajarnya saja, yang diperlukan hanya sabar dan rasa syukur.
Buat apalah mengasihani orang lain, belum tentu ingin dikasihani, malah akan menyakiti hati.
Lain dengan seorang penjilat, hanya ingin apa yang dimiliki, bahkan seluruhnya ingin ada di genggaman.
Penjilat Yang maha segalanya, itulah manusia.
Selalu ingin dikabulkan, padahal semua yang diberi adalah yang dibutuhan.
Sadar diri adalah awalan yang baik kawan!
Ditambah dengan pergerakan istimewa tiap detiknya, itulah yang akan menjadi bukti penobatan seorang menjadi abdi yang agung.
Harapan akan datang saat kalah, salah satunya harapan untuk menang, bukan untuk curang, malahan untuk melangkah maju dan menjadi lebih baik lagi.
Sekiranya ada yang dapat pegendali rasa, itulah yang semua butuhkan, inginnya senang selalu, apa daya rintangan datang seiring bergejolaknya fikiran.
Semakin dalam merasakan yang ada, merasa cukup dengan keindahan yang dilihat, dan mengerti akan keadaan di sekitar, mungkin akan lebih baik.
Bagaikan seorang guru, selalu ingin menjadikan anak didiknya lebih baik, walaupun dirinya masih ada kemungkinan melakukan kesalahan.
Senangnya menjadi tanah, yang bisa menjadi perantara tumbuhnya pohon manga, tetap kokh jati dirinya, tetap kuat walaupun ada hinaan atau bahkan pujian hanya diartikan seperti gelombang suara yang melintas di kuping, bukan untuk merasa bangga berlebih, layaknya seorang pecundang.
Sakit sekali rasanya dihina, memang sakit, hanya saja berlama-lama dalam rasa sakit akan membuat tubuh menjadi busuk, kurang berguna lagi, cukup lalat yang menikmati, dan ternyata menjadi busuk membangkai masih ada manfaat bagi binatang yang dianggap hina, belatung pun terdiam sejenak melihat tubuh ini, timbul pertanyaan dalam jiwa belatung, seandainya tubuh ini masih menghargai diri sendiri, pasti akan tumbuh menjadi pahlawan.

Sunday, September 11, 2011

Hantu


Sekelabat angin mengudara, seperti manusia berkeliaran di trotoar panjang, tanpa memikirkan yang belum dikenalnya.
Sekiranya ada yang mengetuk dengan perlahan, sunyi, sangat sunyi, dimana hanya ada suara ketukan itu.
Akhirnya pintu dibuka, dan yang datang adalah sesosok mayat dengan senyuman di wajah.
Senyuman itu melambangkan kesenangan dalam hatinya saat hidup.
Terfikir untuk lari, namun ia senyum sangat lebar, mengisyaratkan hidupnya begitu dekat dengan sujud.
Terlintas langsung, bahwa hidup hanya untuk sujud, hanya untuk beribadah, apapun yang dilakukan selalu ada sangkut pautnya dengan Yang maha sabar.
Biarlah hantu datang beramai-ramai, belum tentu itu hantu yang mati, atau mayat yang berkeliaran, bisa saja hanya manusia yang menjadi hantu.
Begitu seramnya hidup menjadi hantu, berusaha mengajak menjadi hantu, melupakan sujud.
Sekarang sudah waktunya berbicara dalam hati, mengesakan Yang maha esa.
Sekiranya orang lain menganggap busuk, biarlah, banyak yang belum diketahui sebenarnya.
Bisa dilihat dari gerak gerik si pembicara hati, semakin sering dilihat semakin nyaman dan semakin santai.
Inginnya bertemua sang pijar di hati, yang selalu merasa aman selagi yang lain tegang, selalu merasa senang, selagi yang lain takut.
Hanya itu yang ada di hati, mengungkapkan dengan kesenangan kakinya melangkah dan tangannya yang selalu menengadah berdoa.


Batu


Dalam hidup selalu ada rintangan, jadikanlah sebuah pelajaran
Saat diri hanya bisa tertegun akan sebuah kondisi yang sangat sulit
Disitulah akan dating sebuah pencerahan.
Pencerahan batin, pencerahan jiwa, tentu saja tanpa banyak berfikir akan dilakukan
Senangnya diam seperti batu, biarkan hati yang berbicara
Biarkan hati yang menilai
Seberapa jauh jiwa-jiwa lain mengembara
Untuk kesekian kalinya akan disebut batu.
Batu akan terus menuju dasar laut, dasar kolam.
Hiduplah terus di kedalaman itu.
Atau jika hanya ingin mengapung di permukaan, jadilah batu apung, yang akan terus mengikuti arus
Entah apa yang dipikir dan dirasa, hanya arus itu yang dituruti, menganggap yang tabu adalah kebiasaan yang sangat biasa dilakukan.
Apakah mau hidup dengan ketakutan?
Apakah mau hidup berhati batu?
Walaupun batu selalu menggambarkan kediaman, di sisi lain ia menjerumuskan hati.
Diam bagai batu, melihat apa yang di tatap, sungguh memprihatinkan.
Batu diam, memang batu diam, sebenarnya batu berbicara, batu bahan bakar neraka.
Batu senang membakar, menghajar manusia. Dilempar ke muka, dilempar ke kelamin, dilempar ke kepala, sampai-sampai otak dicela oleh batu.
Sangat disayangkan berhati batu, keras, senang menghina, gila pujian, dendam mengikuti.
Sungguh menyenangkan bersifat seperti batu, selalu diam dalam dzikir.
Memang manusia dikatakan sok suci, bukankah kesucian yang sedikit karena kata “sok”, sama saja suci.
Banyak yang takut terhina kehidupannya, seperti batu yang didiami oleh tai kuda.
Bau, berbelatung, hina, kotor, jijik, membuat muntah.
Masih banyak yang dapat melihat tai kuda diatas batu sebagai sebuah kehebatan, kehebatan Tuhan. bagaimana mungkin batu bata untuk sebuah masjid dihinggapi tai kuda?
Hanya air yang dapat membersihkan.
Dan setelah bersih dan menyatu dengan batu – batu lain. Bau itu akan hilang.
Bau itu lenyap seketika. Batu itu senang dengan keadaan lingkungannya.
Batu itu kembali hidup, bagai batu di dalam lautan, yang mewarnai indahnya lautan.


Tuesday, September 6, 2011

Bercanda


Dibuka dengan kata-kata ringan, banyak juga yang memulai dengan gerakan.
Belum tentu hati mengiyakan yang diucap, penyesalan akan datang setelah lama melihat kembali apa yang terucap.
Sebelum semua ini tiba, hanya kesenangan saja yang ada.
Sebelum semua ini tiba, hanya cemoohan saja yang ada.
Sebelum semua ini tiba, banyak yang tersakiti.
Seadainya kesalahan ini selesai sampai disini, betapa bahagianya dunia.
Kiranya Yang Maha Tahu, mengabulkannya, apakah masih ada rasa sakit?
Seperti pantomime, melawak dengan gerakan, menghibur dengan bahasa tubuh, memang lain sekali, jujur terlihat.
Kesedihan akan masa lalu semuanya pasti mengalami, semua itu toh hanya bercanda.
Bagaikan matahari yang masih rela bersinar, walaupun tertutup kabut dan awan.
Setiap harinya matahari menemani bercandanya setiap insan, keluhannya, kesenangannya hanya untuk menghidupkan dunia.
Bagaikan bulan yang selalu tersenyum pada saatnya, dan dengan perlahan menjadi pemalu pada waktunya pula.
Setiap detiknya dilewati tanpa ada rasa sedih.
Walaupun hina, masih ada mutiara di dalamnya.
Walaupun menjijikan, masih ada harta di jantungnya.
Warna-warni kebahagiaan selalu hadir di setiap darah yang dilewati, di setiap nafas yang dihembuskan, di setiap kedipan yang bergerak.
Hinaan macam apa yang dapat hidup saat orang tertawa?
Memang semuanya sulit untuk tidak ditertawakan, sampai-sampai tikus got bisa jadi sebuah pelajaran.
Mari semua tertawa dalam hidup, tertawailah hidup ini, tertawailah semua, jika itu membuat tenang batin.
Tertawa bukan berarti punya derajat lebih, tertawa memang ingin membuat yang lain senang denagn wajah ini.
Sedihnya saat tertawa untuk membahagiakan disalah artikan, dijadikan sebuah cemoohan.
Sampai saat ini, terlihat baik-baik saja, belum tentu sama dengan rasa dan ucapan setelahnya.
Bergetarlah saat semua itu terjadi.
Apa yang harus dilakukan?
Apa yang harus diperbuat?
Mari berfikir, apa salahnya bercanda tanpa kata?
Akan lebih sulit jika setelahnya selalu meminta maaf karena keteledoran lidah.