Amarah selalu datang saat waktu terasa lambat, keinginan ingin menghajar selalu ada, diikuti dengan cacian tanpa sebab, begitu juga dengan tindakan yang seenaknya.
Ya, amarah selalu datang saat waktu terasa lambat, semuanya terlihat salah di mata, hanya beranggapan diri ini yang paling benar, padahal hanya berujung pada rasa malu.
Memang marah itu perlu, sesungguhnya datangnya amarah akan hilang jika mengingat ujung dari perbuatan.
Sewajarnya saja, yang diperlukan hanya sabar dan rasa syukur.
Buat apalah mengasihani orang lain, belum tentu ingin dikasihani, malah akan menyakiti hati.
Lain dengan seorang penjilat, hanya ingin apa yang dimiliki, bahkan seluruhnya ingin ada di genggaman.
Penjilat Yang maha segalanya, itulah manusia.
Selalu ingin dikabulkan, padahal semua yang diberi adalah yang dibutuhan.
Sadar diri adalah awalan yang baik kawan!
Ditambah dengan pergerakan istimewa tiap detiknya, itulah yang akan menjadi bukti penobatan seorang menjadi abdi yang agung.
Harapan akan datang saat kalah, salah satunya harapan untuk menang, bukan untuk curang, malahan untuk melangkah maju dan menjadi lebih baik lagi.
Sekiranya ada yang dapat pegendali rasa, itulah yang semua butuhkan, inginnya senang selalu, apa daya rintangan datang seiring bergejolaknya fikiran.
Semakin dalam merasakan yang ada, merasa cukup dengan keindahan yang dilihat, dan mengerti akan keadaan di sekitar, mungkin akan lebih baik.
Bagaikan seorang guru, selalu ingin menjadikan anak didiknya lebih baik, walaupun dirinya masih ada kemungkinan melakukan kesalahan.
Senangnya menjadi tanah, yang bisa menjadi perantara tumbuhnya pohon manga, tetap kokh jati dirinya, tetap kuat walaupun ada hinaan atau bahkan pujian hanya diartikan seperti gelombang suara yang melintas di kuping, bukan untuk merasa bangga berlebih, layaknya seorang pecundang.
Sakit sekali rasanya dihina, memang sakit, hanya saja berlama-lama dalam rasa sakit akan membuat tubuh menjadi busuk, kurang berguna lagi, cukup lalat yang menikmati, dan ternyata menjadi busuk membangkai masih ada manfaat bagi binatang yang dianggap hina, belatung pun terdiam sejenak melihat tubuh ini, timbul pertanyaan dalam jiwa belatung, seandainya tubuh ini masih menghargai diri sendiri, pasti akan tumbuh menjadi pahlawan.
No comments:
Post a Comment