Dalam keadaan ini ada yang mengeluh, tentang kesialan di hari kemarin, tentang kemarahan di malam hari, kerugian di siang hari, kecurangan yang dialami di sore hari.
Pagi ini permintaan masih belum dikabulkan, masih banyak yang diingini, entah apa itu, hanya saja tetap ingin selamat dan tetap ingin mendapat kebutuhan sehari-hari.
Pagi hari banyak yang tertawa mengenai orang lain, yang lain itu buruk hanya diri sendiri yang paling baik, pada pagi hari.
Lintasan itu tampak lengang, kosong, hanya ada aspal yang bermandikan embun, seperti hati yang berharap sesuatu yang diidam-idamkan.
Ada yang bilang kekayaan itu dalam hati, memang sangat mudah mengucapkannya, bagi si munafik berat untuk di jalani, yang munafik mungkin seorang yang terbahak-bahak di balik punggung orang itu.
Hanya bisa berkata, semua orang hanya sampah, bagi si munafik, kesombongan sudah di atas kepala batasnya, kesombongan sudah ada di genggaman, selalu berharap pada makhluk, penjilat yang paling manis.
Memang untuk sempurna itu seperti pendakian gunung sejuta meter, diantara sekian batu yang menempel pada gunung itu ada benalu, ada kadal.
Puncaknya hanya akan dilalui di pagi hari itu, dan akan melihat lintasan dari atas sambil berharap sebuah gerakan sujud.
No comments:
Post a Comment